Sabtu, 18 Juni 2016

[Cerbung] Remember Dad - Episode 8



BAGIAN DELAPAN

* * *

-=2005=-

Dian akhirnya sudah naik pangkat menjadi Kapten. Tugasnya sehari-hari adalah mengontrol senjata, melakukan operasi gabungan, dan mengamankan sebuah wilayah. Hanya itu yang dilakukan seorang Kapten seperti Dian.

Pernah suatu hari, dia terluka karena sebuah tembakan di badan. Dan dia harus membutuhkan pertolongan medis. Berhubung saat di kamp dia menemukan sebuah posko di mana semua relawan berkumpul di situ, maka Sersan Irdan dengan diperintahkan oleh Dian, memanggil salah satu relawan yang ada di situ.

Namun saat relawan sudah datang, betapa terkejutnya Dian saat relawan itu adalah Farah Salsabila, orang yang pernah ditemuinya saat di Lebanon. Farah tentu senang melihat tentara ganteng seperti Dian.

“Wah, kita ketemu lagi, yah.” Farah tersenyum pada Dian saat melihatnya.

“Lho, kok kamu ada di sini?” Dian heran melihat Farah menjadi relawan saat operasi gabungan.

“Aku kan diciptakan untuk menjadi relawan. Menolong orang. Dan kali ini, kita bertemu lagi, Sersan Dian.”

“Aku sudah naik pangkat, tau.”

“Oo, jadi pangkatmu itu...”

“Kapten, Kapten.”

“Ah iya. Kita bertemu lagi, Kapten Dian,” ucapnya dengan penuh perhatian.

Farah langsung mengobati luka Dian yang ditembak. Seperti biasa, Farah melakukannya dengan penuh perhatian karena sudah lama sekali dia menyimpan rasa suka pada Dian.

“Kok kamu melakukanya dengan teliti? Biasanya seorang dokter yang merawat tentara yang terluka itu, biasanya tidak seperti ini. Kamu... suka padaku, ya?”

“Kalau iya, bagaimana?”

“Kalau misal iya, apa yang kau suka dariku?”

“Kau setiap kali bermetamorfosis. Kau makin hari makin tampan. Yang kusuka darimu, adalah ganteng, berotot, dan berwibawa.”

“Cuman 3 saja?”

“Iya, dong.”

“Jangan sampai ke depannya kita bertemu lagi. Apakah kita ditakdirkan untuk bertemu?”

“Iya.”

“Kalau begitu, bilang saja.”

“Bilang apa?”

“Bilang kalau kau suka padaku.”

Farah tertawa mendengar pernyataan Dian kalau Farah disuruh bilang suka pada Dian.

“Kenapa ketawa? Ayo, bilang. Saya akan menerimanya.”

“Ah, baik, baik. Tapi, kamu serius, kan? Kamu ingin menyuruhku untuk bilang suka padamu?”

“Iya, bilang saja.”

“Oke... Aku... aku... suka padamu.” Farah terlihat gugup karena belum mengendalikan dirinya.

“Kenapa kau suka padaku?”

“Karena kamu ganteng. Dan juga... aku ingin dicium oleh seorang tentara.”

“Hah? Bisa saja kamu bilang lelucon seperti itu. Aku tidak mau.”

“Tapi, aku kan suka padamu.”

“Tapi, aku belum membalasnya. Tunggu sampai aku membalasnya.”

“Ahh, iya.”

Farah pun disuruh menunggu sampai Dian membalasnya kalau Dian juga suka pada Farah. Mereka diam sejenak, saling menatap masing-masing. Tangan Farah juga berhenti mengobati luka Dian. Mereka masih saja menatap, hingga akhirnya Dian mendekatkan wajahnya pada Farah. Dan akhirnya, Dian langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Farah. Mereka pun berciuman dengan penuh nikmat. Dian semakin mempererat ciumannya pada Farah. Dan mereka saling merangkul leher. Mungkin inilah ciuman pertama mereka dan mereka sudah resmi berpacaran. Dan itu ciuman yang paling terindah buat mereka.

---------------------

-=2016=-

Dian masih ada di posko relawan. Dan korban yang sudah diselamatkan sudah banyak. Bahkan tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Para korban sudah selamat walaupun ada yang terluka.

Pak Letnan, apa Pak Letnan bisa ke Medicube?” Sersan Irdan memanggil Dian lagi lewat walkie-talkie.

“Ada apa di sana?”

Ada orang yang terluka di sini, dan para relawan juga sedang sibuk untuk merawat korban lainnya. Anda bisa mengobati?

“Ehh, saya akan segera kesana sekarang. Kamu tunggu saja di situ.”

Dian langsung menuju Medicube dan melihat pasien itu sangat terluka parah. Awalnya dia ragu-ragu kalau dia bisa mengobati, namun dalam prinsip militer yang dia buat, selain misi untuk mengamankan Negara, tentara juga bisa mengobati orang yang terluka ataupun jika perawat atau relawan sedang tidak ada. Sama seperti yang dialaminya 21 tahun yang lalu saat Dian terluka karena kecelakaan motor. Dia ditolong oleh seorang tentara yang juga mengetahui tentang medis. Maka giliran dia yang menolong orang yang terluka tersebut.

“Baik, Sersan Irdan, ambilkan aku beberapa obat dan alat-alat lainnya di kotak P3K. Biar aku yang rawat orang ini.”

“Siap, dimengerti, Pak Letnan.”

Sersan Irdan pun mengambil kotak P3K yang besar dan memberikannya pada Dian. Dian pun langsung membuka kotak itu dan mengambil beberapa peralatan obat untuk mengobati pasien luka parah itu. Sambil memakai masker, Dian sangat pandai dalam mengobati pasien itu. Dia tidak peduli jika dia adalah seorang tentara yang harusnya mengamankan Negara, dia juga punya misi tersendiri ketika menjadi seorang tentara. Yaitu menolong orang lain.

Setelah selesai mengobati, Dian langsung membuka masker-nya dan bernafas lega bisa mengobati orang itu.

“Luka Anda sudah diobati, dan Anda bisa bernafas lega sekarang,” ucap Dian senang.

“Makasih ya, Pak Tentara, sudah mengobati saya.”

“Tak masalah, karena itu juga memang tugas tentara. Mengamankan Negara dan menolong orang lain.”

“Kalau begitu, kami permisi, karena masih ada tugas yang harus kita jalankan.” Sersan Irdan pamit pada pasien itu dan pergi bersama Dian untuk menjenguk bapak yang diselamatkannya tadi.

------------------

Masih di Medicube, Dian dan Sersan Irdan pergi menjenguk si bapak yang menjadi korban tindihan besi saat crane runtuh di kota Damaskus.

“Bagaimana keadaan Bapak sekarang?” tanya Dian pada si bapak itu.

“Alhamdulillah, sudah membaik sekarang. Dan, tak lama lagi nanti Bapak akan pulang ke Indonesia dan bertemu dengan anak saya di sana.”

“Iya, semoga saja. Tapi, nama Bapak siapa ya? Saya belum tahu nama Bapak.”

“Nama Bapak adalah Bapak Hamdoko.”

“Oh, Bapak Hamdoko? Baik, karena saya tahu nama Bapak, jadi kita bisa sering berbincang-bincang.”

“Iya, betul sekali itu.”

Lalu ada suara bunyi kresek-kresek di walkie-talkie Dian. Mungkin itu panggilan lagi.

Letkol Dian dan Sersan Irdan, apa kalian bisa dengar saya? Misi penyelamatan sudah selesai dan kami juga sudah mendata semua para korban yang ada di sini.

“Baik, kami akan segera ke sana. Secepat mungkin.” Dian merespon panggilan di walkie-talkienya.

“Maaf, Pak. Kami tidak bisa berlama-lama di sini. Nanti kalau kita bertemu, kapan-kapan kita mengobrol lagi.”

“Iya, makasih juga sudah menolong saya. Kalau misal kalian tidak ada, pasti Bapak tidak akan seperti ini.”

“Iya, Pak. Kalau begitu, kami pamit dulu.”

Dian dan Sersan Irdan langsung pergi menuju pusat markas untuk mengumumkan sesuatu. Dian akan memimpin untuk mengumumkan.

“Baik, karena ini adalah peristiwa yang sangat tidak terduga, maka ini adalah sesuatu yang sangat wajar apabila kita ingin menolong mereka yang kesusahan. Dan beruntung tidak ada korban tewas dalam kejadian ini. Dan itu semua adalah kerja keras kalian semua dalam menjalankan misi ini. Jadi, kalian semua sudah bekerja keras selama misi penyelamatan ini. Tapi, ini belum selesai. Kita tidak boleh pulang dari Suriah karena masih ada misi-misi lain yang harus dilakukan oleh tim kita. Jadi, jangan coba-coba untuk pulang sendiri. Kalian mengerti?”

“Siap! Mengerti, Pak Letnan!”

“Bagus, karena misi kita sudah berhasil, lebih baik kita abadikan momen kita untuk berfoto bersama. Panggil juga para relawan untuk berfoto.”

Sersan Irdan memanggil para relawan untuk berfoto, dan tim dari Dian juga ikut untuk berfoto. Semuanya berbaris seraya menatap ke kamera, dan Sersan Irdan yang mengambil foto karena dia tidak mau ikut berfoto.

“Baik saya ambil foto-nya yah. Satu... Dua... Tiga!”

Sersan Irdan mengambil foto dan semua yang ikut berfoto, memasang wajah mereka masing-masing. Tim dari Dian hormat di depan kamera dan para relawan hanya memasang wajah senyum. Dan Sersan Irdan mengambil foto sebanyak 3 foto. Salah satu foto yang bagus adalah saat tim dari Dian termasuk Dian sendiri berpose hormat, dan para relawan tersenyum di foto.

BERSAMBUNG







Tidak ada komentar:

Posting Komentar