Senin, 13 Juni 2016

[Cerbung] Remember Dad - Episode 5





BAGIAN LIMA

* * *

-=2003=-

Pada pertengahan tahun 2003, tepatnya di bulan Agustus, Dian mendapatkan misi untuk menyelamatkan WNI yang disandera oleh sekelompok organisasi Islam di Negara Lebanon. Dan Dian harus menyelamatkan WNI yang disandera tersebut.

Setelah diobati oleh sang dokter wanita yang telah resmi menjadi istrinya, Farah Salsabila, Dian pun langsung menuju wilayah berbahaya untuk melakukan misi. Bersama tentara lainnya, dia masuk di ruangan tempat sejumlah WNI yang bekerja di Lebanon disandera oleh sekelompok organisasi Islam, semacam teroris. Bahkan teroris ini mengancam tentara di Negara apapun yang akan masuk di wilayahnya. Teroris itu meminta tebusan 100 juta rupiah pada 17 WNI yang disandera. Mereka diberikan waktu selama 1 bulan, dan jika mereka tidak meminta tebusan itu, maka mereka akan dibunuh oleh teroris-teroris yang telah menyandera mereka. Dan setelah memberikan kesepakatan untuk melakukan kerja sama, maka Indonesia pun akan menyelamatkan 17 WNI yang disandera itu. Yakni dengan bantuan militer.

Dian membentuk sebuah tim dalam misi penyelamatan WNI kali ini. Mereka sudah siap dengan senjatanya. Mereka perlahan-lahan masuk di dalam ruangan itu, lalu tiba-tiba ada yang menghadang mereka. Siapa lagi kalau bukan teroris yang kejam itu? Teroris-teroris itu juga sudah menyiapkan senjata untuk menodong tim Dian.

What do you want in here?” tanya teroris itu memakai Bahasa Inggris.

“Kami di sini ingin membebaskan sandera. Mana sandera kalian?” Tentara dari tim Dian bicara memakai bahasa Indonesia dan membuat teroris itu tak mengerti.

I’m not understand what army’s say. You guys, speak in English,” tegasnya yang menyuruh mereka bicara dalam Bahasa Inggris.

We’re here is want to liberate the citizens of Indonesia, because you're hostage them. Where the hostage?” Kini, Dian pun angkat bicara.

Hey, you’re the sergeant? Why don’t you say to your team about how you and your team is fool?

Wait, you ridicule us? How you dare?! Where the hostage?” Tiba-tiba, Dian naik darah mendengar pernyataan dari teroris itu.

Not the time to discuss our hostages, do you want to get hurt with our gun? What is your name, Sergeant?

You don’t need know in my name. You look in my uniform.” Dian langsung memperlihatkan papan nama-nya yang tertempel di baju tentaranya.

Oow, you’re name is Dian Hermawan. It means, you’re Sergeant Dian?

Yes, you’re right.

Why did you sign on our territory?

Because this is mission. You don’t need to know. Because you fool.

What? What do you say?

No need to repeat. We want to liberate the your hostage.

Before that...” Teroris itu langsung mengeluarkan senjatanya, dan langsung menembakkan ke arah tim Dian. Sersan Dian pun juga siap untuk menodongkan senjatanya ke arah teroris itu.

Tim Dian bersiap untuk menembak. Namun tiba-tiba saja, ada seseorang di belakang Dian, menodongkan senjatanya ke arah Dian dan langsung menembak Dian dua kali.

Tembakan orang itu membuat Dian langsung jatuh terkapar di lantai. Para tentara di tim Dian langsung terkejut melihat Dian yang tertembak.

“Sersan Dian, Sersan Dian, Anda tidak apa-apa? Anda tertembak.”

Dian masih dapat mendengar suara rintihan dari para tentara itu. Namun Dian langsung tak sadarkan diri karena tembakan itu.

------------------------

-=2016=-

Dian masih teringat akan rintihan dari rekan timnya. Dulu dia dipanggil Sersan Dian, sekarang dia dipanggil Pak Letnan. Terbukti akan suara rintihan dari para tentara yang baru saja turun dari helikopter dan melihat Dian ditembak. Langsung saja, para tentara itu membawa Dian ke tempat posko di mana para tentara dan para relawan berkumpul di situ. Dian dibawa dengan helikopter khusus yang membawanya ke posko.

Setelah sampai di posko, Dian langsung dibawa ke rumah sakit khusus untuk mengobati luka tembak Dian. Ada dua tentara yang membawa Dian memakai tandu.

“Tolong, para tim medis, Pak Letnan terluka. Cepat obati Pak Letnan. Ada tempat tidur kosong untuk Pak Letnan?”

“Oh, oh! Ada, ada! Silakan bawa dia ke sebelah sini.” Perawat itu tergesa-gesa membawa Dian ke tempat tidur kosong.

Segera, Dian pun diobati oleh beberapa dokter dan perawat. Dian sendiri masih di bawah kesadarannya. Dian sekarang ini sedang bermimpi. Mimpi yang amat-amat menyenangkan. Dia dikelilingi oleh orang-orang terdekatnya, dan juga Ayahnya. Semua orang mengkhawatirkan Dian yang sekarang ini sedang terluka.

Dokter dan perawat masih menangani luka tembak Dian, namun tiba-tiba Dian bergumam sendiri seolah-olah memanggil Ayahnya. Tentara yang menolongnya juga melihat Dian bergumam.

“Ayah, Ayah. Ayah.”

“Ooh, Pak Letnan sudah sadar?”

“Ayah, Ayah, Ayah ada di mana? Tolong Dian, Ayah. Dian minta maaf.” Dian masih belum mendapatkan kesadarannya dan masih bermimpi.

“Kenapa Pak Letnan bergumam begitu? Kenapa Pak Letnan bilang ‘Ayah’?”

Lalu secara tiba-tiba, Dian langsung sadar dan tak ingat dari apa yang dilakukannya.

“Oh? Pak Letnan? Apa Pak Letnan sudah sadar?”

“Ahh... Aku di mana? Kenapa aku ada di sini? Perasaan, aku ada di bandara. Dan terakhir kali, aku  menengar suara tembakan dari bandara.” Dian tiba-tiba kehilangan ingatannya setelah sadar.

“Pak Letnan kena tembak. Ada yang menembak Pak Letnan di bandara.”

“Apa? Siapa?”

“Tak tahu, kami sedang menyelidiki penembaknya. Kenapa bisa ada orang yang menembak Pak Letnan?”

“Tapi aneh... Kenapa bisa aku ditembak saat aku sudah sampai di bandara? Harusnya para tentara lainnya cari si penembak itu segera. Kenapa mereka diam saja?”

“Ehh, saat itu kami tidak tahu jika ada penembak. Kita hanya jalan saja.”

“Harusnya perhatikan keadaan sekitar, dong! Siapa yang bertanggung jawab dengan senjata? Panggil mereka segera!”

“Yang bertanggung jawab adalah Yanuar dan Raka. Biar saya panggilkan untuk Anda, Pak Letnan.”

Tentara itupun memanggil Yanuar dan Raka ke kamp untuk berhadapan langsung kepada Pak Letnan.

“Hei, Yanuar dan Raka, kalian dipanggil Pak Letnan.”

“Apa lagi sih?”

“Kan kalian yang tanggung jawab soal senjata, bukan? Kalian dipanggil, cepat! Pak Letnan sedang marah sekarang.”

Yanuar dan Raka langsung pergi ke rumah sakit khusus untuk berhadapan dengan Pak Letnan Dian. Dan Dian sendiri, walau terluka karena tembakan, dia duduk di tempat tidur berhadapan dengan Yanuar dan Raka.

“Kalian... Kenapa tadi kalian tidak mengontrol situasi?”

“Ta--tadi itu... kita tak tahu jika ada penembakan.”

“Harusnya kalian lihat kiri-kanan. Kejadian seperti ini biasanya kita tak tahu jika ada sesuatu terjadi. Harusnya kalian lihat jika terjadi apa-apa. Kalau aku ditembak seperti ini, bagaimana? Kalian ingin Pak Letnan mati gitu? Haah?!!”

“Maafkan kami, Pak.”

“Kalian lari 100 kali keliling kamp. Cepat!!”

“Baik, Pak! Hormat!”

Saat Yanuar dan Raka ingin keluar dari ruangan, tiba-tiba tentara yang tadi itu mendapatkan informasi tentang si penembak itu.

“Pak Letnan! Pak Letnan! Kami sudah mendapatkan informasi-nya!”

“Siapa penembak itu?”

“Dia adalah... seorang teroris yang pernah menyandera 17 WNI tahun 2003 di Lebanon. Sepertinya dia kenal Anda.”

“Teroris--- Teroris yang itu?”

“Iya. Dia yang menembak Anda.”

“Apa? Kok bisa seperti ini sih?”

“Tapi Anda tidak boleh bergerak dulu. Karena Anda terluka dengan tembakan.”

“Iya sih. Saya tak bisa bergerak apapun. Kalian boleh pergi.”

“Baik. Hormat, Pak Letnan!”

Tentara itupun pergi dari ruangan sementara Yanuar dan Raka melanjutkan keluar dari ruangan.

Dian pun kembali berbaring di tempat tidur-nya dan sedikit menatap langit-langit rumah sakit. Kini, pikirannya sedang kosong. Dian memikirkan lagi apa kesalahan yang dibuat oleh Ayahnya 21 tahun yang lalu.

----------------------

-=1995=-

Saat Dian kecelakaan motor dan sudah diobati oleh tentara, dia datang dengan terluka di rumahnya. Ayah dan Ibunya melihat Dian diperban dan terkejut.

“Hei, Dian. Kenapa kau datang terluka seperti ini? Kau jatuh dari motor?” tanya Ayahnya yang melihat Dian banyak luka-luka.

“Hehe, iya Ayah.”

“Harusnya hati-hati. Kok kamu diplester? Kamu punya uang untuk ke dokter?” Ayahnya bertanya lagi pada Dian karena melihat anaknya sudah diobati.

“Hmm, aku pake uang tabungan untuk ke dokter. Jangan tanya lagi, Yah. Dian capek.” Dian berbohong pada Ayahnya kalau sebenarnya dia ditolong tentara di jalan.

Dian langsung masuk kamarnya dan langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Dian sedang menatap langit-langit rumahnya sambil berpikir.

“Kesalahan apa yang aku perbuat selama ini pada Ayahku? Bahkan kata maaf saja susah banget untuk keluar. Apa aku nanti saja ya minta maaf pada Ayah?” gumamnya berpikir.

Tiba-tiba, Ayahnya masuk dalam kamar Dian, lalu Dian pura-pura tidur seolah-olah tak merasa ada Ayahnya yang datang masuk.

“Nak Dian, saatnya makan malam. Nak Dian?”

Ayahnya hanya melihat Dian memejamkan matanya seolah-olah sedang tidur.

“Wah sepertinya dia sedang tertidur. Nanti aku taruh makanannya dia di dalam kamarnya. Siapa tahu jika dia akan bangun bentar, dia akan makan nanti.”

Ayahnya lalu membawa baki makanan yang berisi makanan kesukaan Dian, Ayam Balado dan Sup Sayur. Kemudian Ayahnya menaruhnya di meja belajar Dian. Saat tidak dilihat oleh Ayahnya, Dian sedikit membuka matanya. Dan saat dilihat, Dian langsung menutup matanya seolah-olah tidur nyenyak. Ayahnya tak tahu jika Dian pura-pura tidur. Ayahnya hanya bisa senyum-senyum melihat anaknya yang sudah tidur nyenyak, lalu keluar dari kamar Dian.

Dian langsung membuka matanya dan bernafas lega karena tak ada yang mengganggunya. Perlahan, Dian melihat makanan yang sudah tersaji di meja belajarnya. Lalu, Dian beranjak dari tempat tidurnya dan langsung menghampiri makanan yang terletak di meja belajarnya. Dian langsung memakan makanannya itu dengan lahap. Dian kelihatan seperti orang miskin yang minta makan, terbukti cara makannya mirip seperti orang miskin.

----------------

-=2016=-

Dian masih memikirkan dari apa yang diperbuatnya 21 tahun yang lalu. Dian hanya bisa senyum-senyum memikirkan tingkahnya saat makan di meja belajar.

Lalu, ada perawat membawa makanan untuk Dian. Makanan itu berupa bubur, ayam, sup sayur, tempe tahu, dan lauk pauk lainnya.

“Silakan makan, Pak Letnan. Kuharap semoga Anda suka dengan makanannya.”

“Ahh, iya. Makasih ya, suster.”

“Iya, Pak.”

Kemudian, Dian memakan makanan yang dibawa oleh perawat itu. Dia memakannya sesendok dan merasakan makanan itu mirip dengan masakan Ayahnya.  Dan dengan makanan itu pula, dia rindu pada Ayahnya. Bahkan sampai sekarang, dia masih belum bisa bertemu dengan Ayahnya. Terakhir kali dia berkomunikasi dengan Ayahnya saat tahun 2014, waktu itu Dian sangat sibuk dan anaknya sakit demam, dan Dian menyuruh Ayahnya untuk pergi ke Jakarta untuk merawat anaknya. Dan di situ dia masih belum mengucapkan maaf pada Ayahnya karena dia sangat sibuk melakukan tugas sebagai tentara.

Dia juga ingat dengan istrinya yang ada di Indonesia. Namun pekerjaan tetaplah pekerjaan. Sebagai Letnan Kolonel, misi di Suriah harus tetap diselesaikan. Karena itu juga sebuah tugas Negara dan itu sangat penting bagi Dian.

BERSAMBUNG




CATATAN TAMBAHAN :


- What do you want in here? : Kalian mau apa di sini?

- I’m not understand what army’s say. You guys, speak in English. : Aku tidak paham apa yang mereka bilang. Kalian bicara sajalah pakai Bahasa Inggris.

- We’re here is want to liberate the citizens of Indonesia, because you're hostage them. Where the hostage? : Kami di sini ingin membebaskan warga Indonesia, karena kalian menyandera mereka. Sandera-nya mana?

- Hey, you’re the sergeant? Why don’t you say to your team about how you and your team is fool? : Hei, kamu Sersan ya? Kenapa tak sadarin saja kalau tim kalian itu bodoh?

- Wait, you ridicule us? How you dare?! Where the hostage? : Tunggu, kalian menghina kami? Berani sekali?! Sandera-nya mana?

- Not the time to discuss our hostages, do you want to get hurt with our gun? What is your name, Sergeant? : Bukan saatnya untuk bicarakan sandera kami, kau mau terluka dengan senjata kami? Nama kamu siapa, Sersan?

- You don’t need know in my name. You look in my uniform. : Tak perlu tahu tentang namaku. Lihatlah di seragamku.

- Oow, you’re name is Dian Hermawan. It means, you’re Sergeant Dian? : Oh, jadi namamku Dian Hermawan. Berarti, kau Sersan Dian?

- Yes, you’re right. : Ya, benar.

- Why did you sign on our territory? : Kenapa kalian masuk di wilayah kami?

- Because this is mission. You don’t need to know. Because you fool. : Karena ini adalah misi. Kau tak perlu tahu, sebab kau bodoh.

- What? What do you say? : Apa? Kau bilang apa?

- No need to repeat. We want to liberate the your hostage. : Tak perlu diulangi. Kami ingin membebaskan sandera kalian.

- Before that... : Sebelum itu...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar