Minggu, 08 Mei 2016

[Cerbung] Future Dad - Episode 1




Father Story

* * *

Matahari di pagi hari pun telah menyinari. Angin segar di pagi hari juga mulai terasa. Pada pukul 06.00 pagi, ada seseorang yang telah bangun dari tidurnya. Di rumah yang sangat elit, tinggallah sepasang suami-istri yang sama-sama dokter. Dan orang yang bangun itu adalah si suami. Nama dokter itu adalah Daryan. Dia adalah seorang dokter ganteng yang sangat berwibawa. Dia tidak buka klinik tapi dia bertugas di rumah sakit terbesar dan termewah di Jakarta. Dia adalah dokter umum yang hanya bertugas dan praktek di rumah sakit. Dia berumur 31 tahun dan memiliki seorang istri yang juga seorang dokter. Istrinya sedang hamil 7 bulan. Walaupun sang istri sedang hamil, namun dia tetap menjalankan tugas sebagai seorang dokter. Daryan dan istrinya bekerja di rumah sakit yang berbeda jadi hanya bisa bertemu di rumah atau kalau sempat Daryan menjemput istrinya. Kali ini, Daryan harus bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Banyak pasien darurat di rumah sakit membuat Daryan harus siap siaga. Apalagi Daryan punya jam operasi nanti. Sebelum itu, Daryan sarapan terlebih dulu, dengan masakan Istri tentunya. Walaupun dalam keadaan hamil, Istrinya tetap membuat sarapan untuk Daryan. Berhubung juga dia harus kerja, jadi dia sarapan bersama saja dan membuat bekal bersama-sama. Bekal Daryan dan bekal Istrinya. Romantis melihat Daryan dan istrinya sedang sarapan bersama. Sarapannya juga sangat enak, nasi goreng telur ceplok. Untuk bekalnya mungkin hanya sandwich. Baik, Daryan dan istrinya sudah bersiap untuk berangkat. Daryan pun mengeluarkan mobilnya di garasi dan berangkat menuju tempat kerja mereka masing-masing. Sekitar kurang lebih 1 jam 30 menit untuk pergi ke tempat kerja istrinya, Daryan pun menurunkan istrinya ke rumah sakit tempat istrinya bekerja. Dan akhirnya Daryan berlanjut pergi ke rumah sakit mewah itu. Setelah mobil diparkir, Daryan mengambil tas kerja dan jas dokternya. Dan tentu juga, bekal buatan istri. Setelah mengambil semuanya, dengan gagahnya, Daryan berjalan masuk ke lobby rumah sakit. Karena dia fokus berjalan, tanpa dia sadari, dia menyenggol seseorang yang akan berjalan keluar. Semua yang dipegang Daryan terjatuh. "Oh, maafkan saya. Saya tidak lihat." orang itu berusaha minta maaf pada Daryan. "Ah, tidak kok, saya yang salah karena saya sudah menyenggol Anda." ujar Daryan yang menyadari kesalahannya. Karena Daryan sudah buru-buru, maka Daryan pun mengambil semua barang yang jatuh dibantu dengan orang itu dan langsung pergi begitu saja. Dan tanpa disadarinya, kartu nama Daryan yang dipasang di jas dokternya terjatuh. Orang itu melihatnya dan segera mengambil papan nama itu dan menyusul Daryan. ----------------------- Daryan yang sudah buru-buru langsung menuju ruangan dokter miliknya. Dia hanyalah dokter umum yang mengetahui segalanya, karena memiliki otak yang cerdas. Dan di ruangan dokternya juga, terpampang banyak lukisan yang cantik. Tapi jangan salah, lukisan yang cantik ini semua, Daryan yang melukis ini semua. Selain menjadi dokter, dia juga memiliki hobi melukis. Berbagai prestasi pun ditorehkannya lewat lukisan. Setelah menaruh semua barang di ruangan, maka dia pun menuju ruangan dokter muda untuk memberikan data-data penting. "Bagaimana, kamu sudah merevisi data-datanya?" tanya Daryan pada dokter muda. "Sudah, Dok. Ini semua sudah kami perbaiki." "Baik, hari ini ada berapa pasien yang masuk?" "Berdasarkan data kemarin, ada 20 orang yang masuk rumah sakit dan sudah ditempatkan ke ruangan masing-masing. Tapi ada salah satu pasien yang gawat, Dok." "Siapa itu?" "Seorang pasien yang mengalami gejala TBC dan dari kemarin sampai hari ini, pasien ini terus-menerus batuk-batuk." "Apakah dia sangat parah?" "Sangat parah, Dok. Bahkan keluarganya kewalahan memanggil kami. Dan sejauh ini, dia terus-terusan batuk dan demam." "Dia berada di ruangan mana?" "Dia berada di ruangan Anggrek No. 27. Tepatnya berada di VIP." "Baik. Kau, kau, kau, dan kau, dampingi saya dalam pemeriksaan ini." Daryan menunjuk para dokter muda untuk mendampingi pemeriksaan. Tapi tiba-tiba, seorang anak remaja datang ke ruangan dokter muda. Kemungkinan jelas anak remaja itu adalah orang yang telah menyenggol Daryan. Anak remaja itu pun memberi salam dan masuk ke ruangan itu. "Hei, bocah. Tak lihat apa tanda yang kami pasang di luar? Ini ruangan khusus dokter muda, yang tidak berkepentingan dilarang masuk." tegur salah seorang dokter muda. "Bukan, bukan begitu. Saya hanya ingin, mengembalikan papan nama dokter ini." ujar anak remaja itu sambil mengeluarkan papan nama Daryan di saku celananya. "Ini, punya dari Dokter, 'kan? Papan nama Anda terjatuh tadi." "Oh, bukankah aku tadi menyenggolmu di lobby? Maafkan saya jika saya tidak lihat. Dan makasih juga karena sudah mengembalikan papan nama saya." Anak remaja itu pun mengembalikan papan nama Daryan dan pamit keluar karena sudah mengembalikan papan nama Daryan. "Kalau begitu, saya permisi yah." Begitulah ucapan anak remaja itu ketika pamit pergi. Tanpa berlama-lama, Daryan dan dokter muda yang ditunjuk Daryan tadi pergi menuju ke ruangan pasien yang menderita gejala Tuberkulosis (TBC). Setelah sampai di ruangan Anggrek, terbaringlah seorang pasien yang menderita gejala Tuberkulosis. Di situ juga terdapat keluarga dari pasien itu.

Daryan melihat pasien itu terbaring lemah. Tiba-tiba, pasien itu batuk-batuk. Bahkan batuk-batuknya itu sangatlah tidak biasa dari batuk-batuk pada umumnya. Dia terus-menerus batuk-batuk sampai akhirnya para dokter muda itu harus mengambil tindakan. Daryan juga ikut membantu dalam tindakan ini. Sampai akhirnya, batuknya pun perlahan berhenti. Daryan bingung, pasien ini kenapa ya? Sebentar batuk, sebentar berhenti. "Ini, selalu terjadi setiap hari?" tanya Daryan pada salah seorang keluarga pasien itu. "Iya, Dok. Selalu terjadi setiap hari." jawab salah seorang keluarganya dengan sangat cemas. "Ini penyakit Tuberkulosis-nya sangat parah. Lebih baik pasien ini harus dioperasi. Tapi sebelum itu kita harus menjalani beberapa tes terlebih dulu untuk kelengkapan operasi." Daryan hanya bisa melihat pasien ini sangat lemah. "Apakah Anda setuju bila keluarga Anda dioperasi?" "Hmm, baiklah. Di operasi saja, Dok." "Oke, Anda nanti tinggal tanda tangani surat persetujuan operasi, lalu Anda akan membayar biaya operasi itu. Anda sanggup?" "Iya, Dok. Saya sanggup demi keluarga saya." Daryan dan para dokter muda pun pergi meninggalkan ruangan VIP. Jam 12 siang, saatnya makan siang. Semua pegawai rumah sakit berbondong-bondong ke kantin rumah sakit untuk makan siang. Daryan juga ikutan untuk makan siang, tentu dengan membawa bekal buatan istrinya. Dia bergabung sama teman sesama dokter lainnya. Mereka terkejut melihat Daryan membawa bekal, padahal selama ini Daryan tak pernah bawa bekal. "Hooo, habis bertengkar dengan istri, ya?" canda salah seorang temannya. "Ah, tidak kok. Dia 'kan setidaknya membuatkan bekal untuk suaminya. Seperti yang istriku lakukan." "Oh ya, istrimu hamil berapa bulan?" "Baru 7 bulan." "Bukankah dia seharusnya istirahat, bukannya kerja?" "Setidaknya dia harus kerja juga, sesuai kemampuan dia. Aku bukannya melarang kok, cuman itulah kemauan dia." "Bukankah kamu membuat acara syukuran 7 bulanan gitu, atau apa?" "Direncanain nanti." "Wah, sungguh? Kamu mau membuat acara syukuran? Undang kami yah nanti." "Iya, aku akan undang kalian kok. Tidak usah khawatir." "Asik! Thanks ya, Daryan." Daryan hanya bisa menjawab dengan senyuman saja. Tiba-tiba, ada seseorang yang tidak sengaja menumpahkan sup-nya ke jas dokter Daryan. Rupanya dia adalah anak remaja itu. Daryan juga terkejut karena jas dokter-nya kotor. "Oh, maafkan saya, Dok. Maaf." "Ah, iya. Tak apa-apa kok. Oh iya, bukannya kamu yang tadi mengembalikan papan namaku?" tanya Daryan terkejut. "Iya, Dok. Maaf ya, Dok. Sekali lagi maaf." Hanya itu yang bisa diucapkannya. Daryan menjadi heran, kenapa anak remaja itu muncul lagi? Dia mengira si anak remaja itu pulang, ternyata dia muncul lagi. "Siapa anak itu?" tanya temannya heran. "Tak tahulah. Sebelumnya aku pernah bertemu dengan dia. Entah kenapa dia hanya berniat untuk mengembalikan papan namaku. Apa mungkin ada keluarganya yang sakit di sini?" "Ah, aku tak tahu. Ya sudah, kita makan saja." "Oh, baiklah." Di meja tempat Daryan makan, terdapat makanan nasi, lauk pauk, sup, dan sandwich sebagai makanan penutup. Sementara anak remaja itu hanya makan nasi, ayam, dan sup saja. Entah siapa anak remaja itu. Setelah makan siang, Daryan kembali melanjutkan aktifitasnya sampai menjelang sore. Jam 5 sore, Daryan pun pulang dan mengambil mobilnya. Tapi tiba-tiba, si anak remaja itu memanggil Daryan saat akan keluar dari lobby rumah sakit. "Pak Dokter!" seru anak remaja itu memanggil Daryan. Daryan otomatis memalingkan mukanya ke hadapan anak remaja itu. "Dok, tunggu dulu." ujar anak remaja itu sambil menghampiri Daryan. "Bukannya kamu anak remaja yang mengembalikan papan namaku? Kenapa kamu ke sini? Apa kamu punya keluarga yang sakit di sini?" "Hmm... boleh bicara di taman?" Daryan dan si anak remaja itu pun duduk di halaman rumah sakit. "Kalau mau bicara, silakan. Kau bilang mau bicara, 'kan? Bicaralah." kata Daryan sambil menyuruh anak remaja itu bicara. "Hmm... begini. Nggg... apa ya?" "Kenapa gugup? Bicara saja, kan kita belum berkenalan. Bicara saja yang santai." "Ah, iya. Nggggg... aku... aku... ingin kenalan sama Dokter lebih jauh." "Kenapa?" "Karena aku penggemar Dokter." "Lebih baik bicaranya cepat yah, karena aku ingin jemput istriku." ujar Daryan sambil melihat jam di tangannya. "Hmm... mungkin hanya itu saja kok." "Itu saja?" "Iya, kan Dokter bilang kalau Dokter ingin menjemput istri Dokter." "Baiklah. Kalau begitu, saya permisi yah." hanya itu yang bisa diucapkan oleh Daryan pada anak remaja itu. Daryan pun cepat-cepat pergi dari halaman rumah sakit dan segera mengambil mobilnya. Dan tak berapa lama, anak remaja itu pun segera menyusul Daryan yang sedang mengambil mobilnya. "Kenapa kamu ikut? Ada lagi yang ingin kamu bicarakan pada saya?" "Ah, tidak kok, cuman..." "Cuman apa?" "Boleh kuminta nomor telepon Dokter? Aku hanya ingin simpan saja di hpku." "Oh, boleh silakan." Dan setelah Daryan memberikan nomor teleponnya pada anak itu, Daryan pun pamit pada anak remaja itu dan langsung pergi dari rumah sakit itu. Anak remaja itu pun juga ikut menyusul Daryan naik taksi. Entah apa lagi yang diminta anak remaja itu pada Daryan. BERSAMBUNG


Episode Selanjutnya : Youth Story

Tidak ada komentar:

Posting Komentar