Senin, 21 Desember 2015

[Short Story] Together with Mom - MiniNoveling Special Hari Ibu

Happy Mother's Day bagi semua pembaca MiniNoveling. Hmm, penulis sudah lama merencanakan untuk menulis cerita tentang Ibu. Dan ini sudah berhasil. Sudah semua. Berhubung juga ini Short Story, jadi kayaknya konsep cerita yang penulis sudah tulis agak-agak lumayanlah bagi mimin. Namun, cerita ini mungkin akan jadi inspirasi bagi semua. Selamat Hari Ibu semua dan selamat membaca Short Storynya^^

--==--



Kita sedikit maju ke tanggal 10 Januari 2016, saat aku merayakan hari ulang tahunku. Aku menangis saat mendengar lagu Bunda yang dinyanyikan Melly Goeslaw. Aku teringat Ibuku yang sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Aku belum sempat makan makanan yang diberikan pada semua keluarga besarku saat hari ulang tahunku. Saat aku menangis, tiba-tiba sosok wanita asing muncul di hadapanku. Ternyata dia adalah Ibuku. Ibuku menenangkanku dan bilang “Jangan menangis, Nak.” Apakah Ibuku masih hidup? Atau ini hanya bayanganku saja?

22 Desember 2010

Saat aku masih SD, aku selalu senang kalau ada hari Ibu. Di hari Ibu, aku bingung mau kasih hadiah apa pada Ibuku. Mau dikasih kue? Bingung mau beli di mana. Kalau pelukan kasih sayang, menurutku sudah menjadi tradisiku selama perayaan hari Ibu setiap tahun. Kayaknya aku dapat ide. Karena ada temanku yang pintar banget menggambar, mungkin ini jadi panutan untuk hadiah yang akan kuberikan pada Ibuku. Aku pun meminta temanku untuk menggambarkan sesuatu tentang aku dan Ibuku. Dan temanku pun setuju dan menggambarnya.

Tak lama, gambar yang dia gambar sudah selesai. Aku senang karena aku mendapatkan gambar di mana di situ adalah aku dan ibuku. Jam pelajaran selesai, aku tidak sabar untuk pulang dan bertemu Ibuku. Ketika sampai di rumah, aku mendapati rumahku kosong. Lho, kenapa? Aku pun langsung menelepon Ayahku.

“Halo, Ayah. Mana semua orang?”
“Ibu masuk rumah sakit. Semua sudah pergi, tapi aku melupakanmu karena buru-buru.”
“Hah?!! Kok bisa?”
“Ayah tidak tahu, yang penting aku akan menjemputmu di rumah. Jangan kemana-mana dan tunggu Ayah.”

Saat menutup telepon, aku langsung terduduk lemas dan terkejut kalau Ibuku masuk rumah sakit. Di hari yang membahagiakan seperti ini, aku sedih dan tidak bahagia karena Ibu masuk rumah sakit. Aku tak dapat berbuat apa-apa lagi dan gambar yang kupegang menjadi agak basah karena tetesan air mataku.

Di rumah sakit, aku melihat Ibuku masih belum bisa sadar. Dokter berkata kalau Ibuku pingsan karena merasa tak enak badan dan kesakitan di kakinya yang bengkak. Ayahku sedang memotong buah, sementara aku meratapi Ibuku yang masih belum sadar. Akhirnya, Ibuku bangun dan aku bertanya tentang kondisi Ibuku. Ibuku berkata kalau dia baik-baik saja. Aku memeluk sambil menangis karena Ibuku masih bisa sehat. Ibuku menenangkanku. Setelah menangis, aku langsung memberikan kertas yang berisi gambar yang dibuat temanku tadi. Aku pun berkata

“Ibu, tetaplah sehat dan jangan sakit-sakit lagi. Aku takut kalau Ibu sakit keras dan bagaimana dengan sekolahku, Bu? Aku tak tahan menerima semua ini.”
“Iya, Nak. Ibu paham. Ibu akan selalu sehat, tapi yang penting, berdoa semoga Ibu bisa sehat.”
“Iya bu.”

Aku masih berpelukan dengan Ibuku, inilah betapa sayangnya padaku terhadap Ibuku.

--==--

22 Desember 2011

Hari Ibu, aku masih ingat setahun yang lalu aku berikan gambar pada Ibuku. Sekarang, aku akan membelikan kue pada Ibuku. Aku tak minta pada Ibuku melainkan aku beli dengan memakai uang tabunganku yang telah kutabung selama setahun. Saat kuperiksa celenganku, ternyata celenganku berat sekali. Pasti di dalamnya ada banyak uang. Saat kupecahkan, wah, ternyata banyak sekali uang yang keluar. Aku hitung selama hampir satu jam. Dan ternyata uangku berjumlah Rp200.000. Pas uangnya. Karena aku masih SD, aku masih belum bisa beradaptasi dengan dunia luar. Jadi, aku minta sepupuku untuk mengantarku membelikan kue. Setelah aku beli kue, aku langsung memberikan kuenya pada Ibuku. Saat aku memberinya kue, aku lihat Ibuku menangis. Aku langsung menghibur Ibuku.

“Ibu kenapa?”
“Gak kok, Nak (sambil mengusap air matanya) Aku cuma memikirkan bagaimana dengan sekolahmu dan bagaimana juga dengan pekerjaan Ibu? Aku bahkan masih belum bisa memikirkannya karena penyakit Ibu sudah semakin parah. Aku bahkan gak bisa makan yang manis-manis. Kenapa beli kue?”
“Gak kok Bu, aku gak tahu kalau Ibu tidak bisa makan yang manis-manis.”
“Kamu makan aja sama kakak-kakakmu.”
“Sebelum aku makan, Ibu buat harapan. Apa harapan Ibu di hari yang spesial ini?”
“Ibu cuma ingin kalian sehat dan menjadi generasi muda penerus bangsa. Aku gak mau salah satu dari kalian akan hancur gara-gara hal sepele. Aku mau kalian bisa menjadi kebanggaan buat Ibu.”
“Ibu cuma khawatir tentang kami. Bagaimana dengan kesehatan Ibu? Apa Ibu tidak mengkhawatirkan kesehatan Ibu?”
“Ibu... Ibu... Ibu cuma tidak mau kalau riwayat penyakitku tidak bocor padamu dan kakak-kakakmu. Nanti kau sedih dan terus perhatian. Ibu tidak butuh perhatian, Ibu cuma butuh kebanggaan. Kebanggaan bagimu, Nak.”
“Ibu... Aku juga punya harapan. Ibu jangan pergi yah. Ibu jangan pergi, meninggalkanku, Ayah dan juga kakak-kakakku. Nanti kami akan sedih kalau Ibu pergi.”
“Iya, Nak. Ibu gak akan pergi. Ibu akan terus sehat sampai kamu dewasa.”

Suasana yang bahagia, langsung menjadi sedih karena Ibu pasrah dengan penyakit yang dideritanya.

--==--

16 Agustus 2012

Penyakit Ibu sudah semakin parah, dan kakinya juga sudah bengkak sekali. Dokter berkata Ibu harus secepatnya di operasi. Akhirnya aku, Ayahku, dan kakak-kakakku setuju untuk melakukan operasi. Ibuku langsung dioperasi sementara kami menunggu di depan ruangan operasi. Kami harus menunggu selama 7 jam untuk operasi Ibuku. Akhirnya sudah selesai operasinya dan dokter berkata kalau Ibuku sudah dioperasi, tapi saat ditengah operasi, Dokter mengaku kesulitan dalam operasi. Tapi Dokter berkata tidak ada apa-apa dan jangan dikhawatirkan soal tadi. Namun Dokter harus membawa Ibuku ke ruangan ICU karena sudah semakin parah. Biarpun sudah dioperasi, Ibuku malah jadi semakin parah. Ibuku pun langsung dibawa ke ruang ICU. Kami langsung pindah ke ruang tunggu ICU di mana semua keluarga pasien juga menunggu di situ. Kami memindahkan semua barang dan dibawa ke ruang tunggu ICU. Saat semua sudah tidur, aku diam-diam pergi ke ruang ICU dan memakai baju khusu untuk masuk ke ICU.  Saat itu, aku sangat sedih dan menangis karena Ibuku yang sedang terbaring di ruang ICU. Apakah ini sudah menjadi tanda kalau Ibuku sudah pergi? Aku tak tahan lagi dan langsung pergi meninggalkan Ibuku yang sedang sendirian terbaring di ruang ICU.

19 Agustus 2012

Banyak tamu serta keluarga besarku yang datang menjenguk Ibuku. Semenjak 3 hari yang lalu setelah operasi, kesehatan Ibuku berangsur-angsur membaik. Kadang baik, dan kadang buruk. Aku bersyukur karena Ibuku akhirnya membaik. Namun, kejadian menyedihkan datang pada keluargaku. Saat semua tamu sudah pergi, tiba-tiba suster memanggil kakakku saat Ayah dan kakak keduaku ingin mengambil sesuatu dan harus pulang di rumah. Kakakku pun langsung memanggilku dan memberitahuku kalau Ibuku sudah pergi.

“Maksudnya apa? Apa maksudnya?”
“Ibu, Ibu sudah meninggal.”
“HAH?!!”

Aku pun langsung tersontak mengeluarkan air mataku dan menangis terus hingga Ibuku dimakamkan. Aku rela Ibuku sudah pergi. Walaupun Ibu sudah pergi, tapi aku akan tetap belajar bersungguh-sungguh dan semoga ini membuat Ibuku bangga.

--==--

10 Januari 2016

Hari itu, adalah hari ulang tahunku yang ke 16 tahun. Aku mendapat banyak sekali hadiah. Terutama aku mendapat kue tart dari Ibu baruku. Aku mendapat Ibu baru saat tahun 2014. Walaupun aku mendapat Ibu baru, aku masih ingat ibu kandungku yang setia menemaniku sejak kecil. Ibu baruku berkata kalau menangis tidak bisa menyelesaikan masalah. Biarkan saja. Ini hari ulang tahun kok sedih? Yah, bagaimana aku sedih karena aku teringat Ibuku. Selain kue tart, aku mendapat hadiah yaitu makanan bihun goreng, minuman, dan yang lainnya. Yang penting, aku menerima banyak sekali hadiah. Saat Ibu baruku pergi, aku pun menangis lagi karena aku dengar lagu Bunda dari Melly Goeslaw.


Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu dtimang

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan selalu ada di dalam hatiku


Saat mendengar lirik itu, aku langsung menangis dan melupakan semua makanan yang ada di hadapanku. Tiba-tiba saja, aku melihat sesosok wanita yang asing dan hampir melupakan wajahnya. Aku bertanya

“Anda siapa ya?”
“Aku... Ibumu, Nak.”
“Benarkah? Aku tidak kenal.”
“Benar, Nak. Aku Ibumu.”

Aku pun langsung memegang wajah wanita itu. Ternyata ini Ibuku. Aku pun langsung memeluk Ibuku dan menangis lagi.

“Ibu, benarkah ini Ibu? Bagaimana kabar Ibu?”
“Iya, Nak. Ibu baik-baik saja. Selamat ulang tahun ya Nak.”
“Iya, Bu. Ibu kapan sampainya?”
“Aku sempat izin ingin ketemu dengan anak kesayanganku. Bagaimana kabarmu, Nak?”
“Baik-baik saja, Bu.”
“Aduh, gak nyangka anakku bisa sebesar ini. Ibu tak ingat. Kamu sudah kelas berapa, Nak?”
“Aku sudah kelas X SMA, Bu.”
“Aduh, kamu udah besar, Nak. Belajar yang baik, ya nak. Semoga kamu bisa menjadi kebanggaan Ibu, Nak.”
“Iya Bu.” Aku menangis lagi dan Ibuku pun menghiburku dan menenangkanku.

“Kamu jangan nangis lagi. Masa sudah 16 tahun nangis? Sudah, sudah nak. Jangan nangis lagi.”
“Iya bu. Aku tak akan nangis lagi.”
“Apapun itu, kamu harus membanggakan Ibu ya.”
“Ini, aku sudah membanggakan Ibu. Aku rangking 1 di sekolah.”
“Ah, aduh anak Ibu memang pintar.”
“Iya bu. Makan dulu bu. Banyak sekali makanan di sini.”

Aku pun langsung mengajak Ibuku untuk makan. Saat mengambil bihun goreng, tiba-tiba saja Ibuku menghilang. Aku pun langsung berpikir kalau ini cuma ilusiku saja. Aku mungkin ilusi karena betapa rinduku pada Ibuku. Tadi Ibuku sempat muncul di hadapanku. Namun tiba-tiba menghilang. Aku sempat menangis di situ. Ini mungkin adalah kado ulang tahun yang Ibu berikan padaku. Aku terus-terus menangis karena kejadian itu. Aku menangis karena ini adalah kado ulang tahun terbaik karena aku sempat ketemu dengan Ibuku, walaupun cuma ilusiku saja.

==THE END==

Gimana dengan ceritanya? Kayaknya ada yang sedih? Atau sekedar biasa? Lha, kok ini cerita tentang ibu dibilang biasa? Kalau menurut mimin, ceritanya seru banget dan sedih banget yang sudah ditulis oleh penulis MiniNoveling. Tapi yang paling seru nih, saat ulang tahun penulis. Kayaknya ada pertemuan antara penulis dan Ibunya. Aduh ini kayaknya penulis betapa rindunya sama Ibunya bahkan sempat ketemu dengan Ibunya walaupun ini cuma ilusi belaka. Tapi seru deh.

Selamat hari Ibu yah untuk semua Ibu di Indonesia^^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar